Situasi geopolitik global kembali bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memerintahkan pengerahan dua kapal selam nuklir ke posisi strategis pada Jumat (1/8). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap pernyataan bernada ancaman dari mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia.


Seperti dilansir dari CNN Indonesia, Trump mengungkapkan perintah tersebut melalui akun media sosial pribadinya, Truth Social. Ia menyatakan, "Berdasarkan pernyataan yang sangat provokatif, saya telah memerintahkan dua kapal selam nuklir untuk ditempatkan di wilayah yang tepat, untuk berjaga-jaga jika pernyataan bodoh dan provokatif ini lebih dari sekadar itu."


Trump menambahkan, “Kata-kata sangat penting, dan seringkali dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan, saya harap ini tidak termasuk dalam contoh tersebut.”


Menurut laporan CNBC Indonesia, pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump mengajukan ultimatum kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk segera mencapai kesepakatan damai terkait konflik Ukraina, dengan batas waktu baru yang dipangkas menjadi kurang dari dua minggu. Jika Rusia tidak memenuhi tuntutan tersebut, Trump mengancam akan memberlakukan sanksi sekunder besar terhadap para mitra dagang Negeri Beruang Merah.


Sikap keras Trump mendapat respons sengit dari Medvedev. Dalam unggahannya di X, Medvedev menyebut, “Trump sedang bermain-main dengan ultimatum terhadap Rusia: 50 hari atau 10... Ia seharusnya ingat dua hal. Pertama, Rusia bukan Israel atau bahkan Iran. Kedua, setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang. Bukan antara Rusia dan Ukraina, tetapi dengan negaranya sendiri. Jangan ikuti jejak 'Sleepy Joe'!”


Medvedev juga mengkritik ucapan Trump soal kerja sama ekonomi antara Rusia dan India, seraya menyindir, “Mengenai ucapannya tentang 'ekonomi mati' India dan Rusia serta 'memasuki wilayah berbahaya,' mungkin dia perlu menonton ulang film favoritnya tentang mayat hidup dan mengingat betapa berbahayanya 'Dead Hand' yang legendaris itu."


Sistem Dead Hand sendiri dikenal sebagai mekanisme pertahanan ekstrem yang dirancang untuk meluncurkan serangan nuklir balasan otomatis jika Rusia mendeteksi adanya serangan nuklir terhadap wilayahnya. Sistem ini merupakan simbol deterrence klasik era Perang Dingin.


Polemik antara Trump dan Medvedev telah berlangsung selama beberapa hari terakhir di berbagai platform media sosial, terutama mengenai isu Ukraina dan kerja sama perdagangan internasional.


Ketegangan ini diperparah dengan laporan dari AFP, yang dikutip CNN Indonesia, mengenai intensitas serangan Rusia ke Ukraina yang masih tinggi. Sepanjang Juli, drone Rusia dikabarkan menyerang secara masif. Bahkan, serangan terbaru di Kyiv pada Kamis dini hari menewaskan sedikitnya 31 orang, termasuk lima anak-anak.


Meskipun mendapat tekanan keras dari Amerika Serikat, Rusia terus melancarkan ofensif militer ke Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menegaskan pada Jumat bahwa ia menginginkan perdamaian, namun tetap berpegang pada syarat-syarat lama: Ukraina harus menyerahkan sebagian wilayahnya dan menghentikan aspirasinya untuk bergabung dengan NATO.


Hingga kini, belum ada kejelasan apakah kapal selam yang diperintahkan Trump merupakan kapal selam bertenaga atau bersenjata nuklir. Lokasi penempatan pun tidak dirinci lebih lanjut, sesuai dengan kebijakan kerahasiaan militer Amerika Serikat. Namun diketahui, Amerika dan Rusia adalah dua negara pemilik senjata nuklir terbesar di dunia, dan kapal selam merupakan bagian dari sistem triad nuklir AS—yang mencakup peluncuran dari darat, laut, dan udara.


Meski tidak secara eksplisit menyebut Medvedev dalam seluruh pernyataannya, Trump sebelumnya telah menyindirnya secara langsung. “Berhati-hatilah dengan ucapannya,” tulis Trump. “Dia memasuki wilayah yang sangat berbahaya!” Trump juga menyebut Medvedev sebagai “mantan Presiden Rusia yang gagal, yang merasa dirinya masih Presiden.”


Sebaliknya, Medvedev tak kalah lantang dalam menjawab. “Jika beberapa kata dari seorang mantan Presiden Rusia dapat memicu reaksi gugup seperti itu dari Presiden Amerika Serikat yang saat ini menjabat dan seharusnya tangguh, maka jelas Rusia berada di pihak yang benar dan akan terus melanjutkan jalannya,” ujarnya.


Situasi ini menunjukkan bahwa relasi bilateral antara dua negara adidaya tersebut kini tengah berada dalam titik kritis. Dunia pun kembali dibayangi kekhawatiran akan potensi konflik besar jika retorika antara dua tokoh berpengaruh ini tidak segera diredam.


Penulis : Aldafi Prana Tantri

Editor : Windi Judithia