Sumber: kompas.com
Suara Kritis yang Dibungkam: Misteri Kematian Ermanto Usman, Perampokan atau Pembungkaman?
Jakarta, Kunci Hukum – Ermanto Usman (65) seorang pensiunan Jakarta International Container Terminal (JICT) dan Aktivis Pelabuhan tewas akibat dugaan perampokan di kediamannya Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat. Sang istri berinisial P (60) juga turut menjadi korban dan tengah menjalani perawatan medis di rumah sakit. Lalu, apa motif sebenarnya dari kasus ini?
Kronologi Peristiwa Kematian
Tragedi ini bermula ketika Ermanto Usman diserang oleh perampok di kediamannya pada Senin (2/3). Kejadian tersebut baru diketahui oleh sang anak ketika menjelang sahur. Saat itu anak korban merasa curiga karena kedua orang tuanya tidak membangunkan sahur hingga pukul 04.00 WIB.
"Ketika dia bangun dia kaget, wah ini kan bentar lagi imsak, akhirnya dia turun. Ketika turun dia lihat kok enggak ada jawaban, lampu masih mati," kata Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Andi Muhammad Iqbal kepada wartawan, Senin (2/3).
Saat terbangun tersebut, anak korban masih sempat mendengar suara ibunya. Namun ketika dihampiri di kamarnya, pintunya rusak dan tidak bisa dibuka. Singkat cerita, ayah korban sudah dalam kondisi meninggal dunia dengan bersimbah darah. Sedangkan ibunya, dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis dikarenakan mengalami luka berat. Polisi yang menyelidiki kasus ini mencatat bahwa ada sejumlah barang yang diambil dari insiden tersebut yaitu gelang emas serta dua kunci mobil.
Misteri dan Kejanggalan Kematian: Perampokan atau Pembungkaman?
Saat melakukan penyelidikan kematian Ermanto Usman, pihak Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Andi Muhammad Iqbal menyatakan bahwa penyidik mengalami kesulitan dalam mengungkap kasus tersebut dikarenakan minimnya barang bukti dan saksi di lokasi kejadian.
“Di rumah korban tidak ada CCTV. Saksi juga sangat minim,” ujar Andi saat dikonfirmasi, Jumat (6/3).
Polisi tetap berupaya untuk mengumpulkan berbagai macam petunjuk baik di lokasi kejadian maupun di lingkungan sekitar serta tetap memeriksa keterangan para saksi. Pihak keluarga merasa janggal akan kejadian perampokan ini dikarenakan perampok hanya mengambil 2 kunci mobil tanpa membawa mobilnya sehingga hal ini semakin mencurigakan. Disisi lain, pihak keluarga juga menilai bahwa kasus ini bukanlah perampokan biasa, namun lebih daripada itu yaitu dugaan pembunuhan serta berharap kasus ini bisa terungkap.
"Semoga kasus ayahanda kami bisa terungkap siapa pelakunya. Karena menurut kami ini lebih mengarah kepada kasus pembunuhan," ungkap Fiandy A Putra kepada awak media, Selasa (3/3).
Dalam hal ini Ermanto juga dikenal sebagai sosok yang mengungkap soal dugaan korupsi terkait pengelolaan di pelabuhan. Terakhir Ermanto pernah tampil di podcast akun Youtube Forum Keadilan TV pada 15 Desember 2025 yang berjudul “Pelindo Boneka PT.Hutchison (Hongkong)..Ada Pemerintah di atas Pemerintah!!!”. Dalam podcast tersebut, Ermanto mengungkap soal kerja sama antara Pelindo dengan Hutchison yang diduga merugikan negara.
Desakan oleh DPR dan Kerabat Dekat
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB, Abdullah, meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan Ermanto Usman ini. Menurutnya kasus ini harus ditangani serius dan transparan karena korban dikenal sebagai aktivis yang vokal mengungkap praktik korupsi dan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lingkungan pelabuhan.
“Peristiwa ini harus diusut tuntas. Kepolisian perlu memastikan apakah kasus ini murni perampokan yang disertai penganiayaan atau ada unsur pembunuhan berencana terhadap korban yang selama ini dikenal kritis dan vokal” ucap Abdullah pada Jumat (6/3).
Kakak Kandung, Dalsaf Usman juga turut berkomentar bahwa adiknya pernah dua kali dipecat dari JICT karena dinilai terlalu vokal menyuarakan aspirasi serikat buruh
"Pada saat dipecat itu akhirnya dibatalkan lagi oleh Menteri Perhubungan. Dia dipecat karena memang mengkritik kebijakan yang tidak sesuai prosedur. Ermanto selalu vokal dalam menyuarakan aspirasi, termasuk dugaan korupsi di Pelindo. Bahkan pandangannya itu juga sering disampaikan di podcast, termasuk perihal perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan Hongkong Hutchison Holdings (HPH).” katanya
Selain itu, rekan Ermanto yang juga Anggota DPR yaitu Rieke Diah Pitaloka menilai kematian sahabatnya bukan peristiwa yang bisa dianggap perampokan atau pembunuhan biasa.
"Saya melihat ada indikasi kuat ini bukan sekadar pembunuhan, melainkan bentuk pembungkaman terhadap seseorang yang bersuara soal dugaan korupsi di sektor pelabuhan," kata Rieke lewat akun Instagram pribadinya.
Rieke menyebut Ermanto konsisten menyampaikan kasus perpanjangan kontrak JICT. Ia berbicara karena hati nurani, bukan karena kepentingan.
"Orang bisa saja dibungkam, tetapi kebenaran tidak boleh ikut dikubur. Saya meminta aparat penegak hukum @kepolisian_ri @official.kpk mengusut tuntas hingga ke akar. Jangan berhenti pada pelaku lapangan. Jika ada dalang di balik ini, mereka harus dimintai pertanggungjawaban," kata Rieke menambahkan.
Penulis: Oktav Fazha Darmawansyah
Editor: Fuji Mayumi Riyenti
Baca Artikel Menarik Lainnya!
KPK Usut Dugaan Korupsi Jalan di Sumatera Utara: N...
29 June 2025
Waktu Baca: 4 menit
Baca Selengkapnya →
Urgensi Harmonisasi Peraturan Daerah Setelah KUHP...
06 February 2026
Waktu Baca: 8 menit
Baca Selengkapnya →
Langkah Mengejutkan! Prabowo Hentikan Proses Hukum...
01 August 2025
Waktu Baca: 4 menit
Baca Selengkapnya →