Sumber: Gramedia
Resensi Buku Gerpolek (Gerilya, Politik, Ekonomi)
A. Identitas Buku
Judul Buku : GERPOLEK (Gerilya-Politik-Ekonomi)
Pengarang : Tan Malaka
Tahun Terbit : 1948
Jumlah Halaman : 140 Halaman
Bahasa Orisinil : Bahasa Indonesia
ISBN : 978-602-5792-54-0
B. Sinopsis
Buku Gerpolek (Gerilya-Politik-Ekonomi) merupakan sebuah manifesto perjuangan yang lahir dari ketajaman pemikiran Tan Malaka di tengah pengapnya sel penjara Madiun pada tahun 1948, sebuah periode krusial di mana kedaulatan Indonesia sedang dipertaruhkan di meja diplomasi yang penuh tekanan. Dalam narasi yang panjang dan mendalam ini, Tan Malaka membedah anatomi kemerdekaan dengan argumen bahwa kebebasan sebuah bangsa tidak akan pernah utuh jika hanya terbatas pada pengakuan administratif di atas kertas tanpa adanya penguasaan penuh atas kedaulatan politik dan kekuatan ekonomi. Ia meluncurkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah saat itu yang dianggapnya terlalu kompromistis terhadap kekuatan kolonial, seraya menawarkan doktrin "Merdeka Sepenuhnya" sebagai satu-satunya jalan keluar yang terhormat.
Melalui konsep Gerilya Politik, Tan Malaka menegaskan bahwa diplomasi hanya boleh dilakukan sebagai kepanjangan tangan dari perlawanan fisik di lapangan. Baginya, berunding tanpa kekuatan militer yang militan hanyalah sebuah penyerahan diri secara halus. Tan Malaka mengajak seluruh elemen rakyat mulai dari buruh, tani, hingga pemuda untuk bergerak dalam kesatuan massa aksi yang tidak tergoyahkan guna menekan musuh agar angkat kaki tanpa syarat. Sementara itu, dalam aspek Gerilya Ekonomi, Tan Malaka memaparkan visi sosialis-nasionalis yang radikal namun logis pada zamannya, di mana ia menuntut agar seluruh alat produksi, sumber daya alam, dan aset-aset vital yang selama ini dikuasai asing segera diambil alih dan dikelola oleh negara demi kemakmuran rakyat jelata.
Tan Malaka memperingatkan dengan keras bahwa membiarkan modal asing tetap bercokol di bumi Indonesia pasca-kemerdekaan hanyalah bentuk lain dari penjajahan terselubung atau neokolonialisme, yang pada akhirnya akan membuat bangsa ini tetap menjadi kacung di rumahnya sendiri. Dengan bahasa yang membakar semangat namun tetap berlandaskan analisis sosiologis yang kuat, Gerpolek bukan sekadar buku teori politik, melainkan sebuah panduan strategis bagi bangsa yang sedang dikepung, menekankan bahwa kemandirian ekonomi adalah benteng terakhir untuk menjaga martabat politik agar tidak selamanya didikte oleh kepentingan kekuatan global.
Dulu, Tan Malaka sangat merisaukan makin menciutnya wilayah republik dengan berdirinya negara boneka bentukan Belanda. Sementara kaum kapitalis, kolonialis, dan imperialis berhasil mengacaukan perekonomian dan keuangan republik Indonesia. Karena itu, Tan Malaka tidak mengenal kompromi dengan kekuatan kolonialisme dan imperialisme. Ia tidak menyetujui perundingan dengan lawan. Ia menganggap berunding adalah sikap mengorbankan kedaulatan dan kemerdekaan rakyat.
Kini, di zaman modern, kata “Merdeka” seperti telah tergerus dalam pengertian yang semu. Campur tangan pihak asing dan kepentingan pribadi telah mengalahkan semangat proklamasi. Melalui karya ini Tan Malaka menyatakan sikapnya tentang politik dan ekonomi yang bebas dan merdeka. Terakhir, sebuah kutipan dari Tan Malaka “Kita telah merdeka dan negara mana saja yang melanggar kemerdekaan kita itu adalah negara agresor yang harus diboikot dan diperangi…” ~ Tan Malaka
C. Keunggulan dan Kekurangan
Keunggulan utama buku ini terletak pada ketajaman visinya yang melampaui zaman, di mana Tan Malaka mampu membedah konsep kedaulatan bukan sekadar sebagai simbol bendera atau pengakuan diplomatik, melainkan sebagai kemandirian absolut yang berakar pada penguasaan ekonomi nasional. Keunggulan narasi Tan Malaka terletak pada kemampuannya menyatukan teori marxisme dengan realitas sosiologis Indonesia, sehingga melahirkan doktrin "Merdeka Sepenuhnya" yang sangat orisinal dan membakar semangat patriotisme tanpa kompromi. Buku ini menjadi dokumen sejarah yang sangat berharga karena ditulis di balik jeruji besi dalam kondisi serba terbatas, namun tetap mampu menyajikan analisis geopolitik yang sistematis mengenai bagaimana sebuah bangsa muda harus memposisikan diri di tengah kepungan kekuatan imperialis. Penegasan Tan Malaka mengenai pentingnya nasionalisasi aset vital dan penguatan ekonomi kerakyatan (gerilya ekonomi) memberikan fondasi berpikir yang relevan hingga hari ini, terutama dalam diskursus mengenai kedaulatan pangan, energi, dan penolakan terhadap neokolonialisme ekonomi yang sering kali menjerat negara berkembang melalui utang luar negeri.
Namun, di sisi lain, buku ini tidak luput dari kekurangan, terutama dari aspek pragmatisme politik yang sering kali dianggap terlalu utopis dan kaku untuk diterapkan dalam dinamika hubungan internasional yang kompleks. Strategi Tan Malaka yang menolak segala bentuk diplomasi dan kompromi (seperti Perjanjian Linggarjati atau Renville) dipandang oleh sebagian sejarawan dan politisi sebagai langkah yang sangat berisiko sehingga bisa membawa Republik yang baru lahir ke ambang kehancuran total akibat agresi militer yang tak seimbang. Selain itu, dari segi aksesibilitas bacaan, gaya bahasa Tan Malaka yang menggunakan diksi bahasa Indonesia lama bercampur dengan istilah-istilah sosiologi, ekonomi, dan politik klasik Eropa membuat buku ini cukup berat dan sulit dicerna oleh pembaca awam tanpa latar belakang pengetahuan sejarah atau teori sosial yang kuat. Sifat tulisannya yang sangat agitprop (agitasi dan propaganda) juga membuat analisisnya kadang terasa sangat subjektif dan hitam-putih, sehingga kurang memberikan ruang bagi nuansa negosiasi yang sebenarnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari taktik bertahan hidup sebuah negara di panggung global.
D. Penilaian Penulis (subjektif)
Buku Gerpolek karya Tan Malaka menempatkan karya ini sebagai salah satu capaian intelektual paling radikal sekaligus visioner dalam sejarah pemikiran politik Indonesia, di mana Tan Malaka berhasil membedah anomali kemerdekaan yang terjebak dalam dikotomi antara kedaulatan de jure dan ketergantungan de facto. Tan Malaka menunjukkan kematangan analisis yang luar biasa dengan menegaskan bahwa "Merdeka Sepenuhnya" bukanlah slogan emosional semata, melainkan sebuah prasyarat teknis bagi ketahanan sebuah negara. Tanpa kemandirian ekonomi yang absolut melalui penguasaan aset vital oleh rakyat, kemerdekaan politik hanyalah sebuah fatamorgana yang mudah sirna oleh tekanan modal asing. Kehebatan Tan Malaka dalam buku ini terletak pada kemampuannya menyusun strategi "Gerilya" yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik senjata, tetapi juga taktik politik-ekonomi yang defensif namun agresif untuk memutus rantai imperialisme yang masih mencengkeram.
Namun, dari sudut pandang kritis, Tan Malaka tampak terjebak dalam idealisme yang sangat kaku (dogmatis) terkait penolakan total terhadap diplomasi, yang dalam konteks political will saat itu mungkin dianggap sebagai langkah bunuh diri bagi Republik yang masih bayi. Meskipun argumennya tentang bahaya kompromi sangat masuk akal dalam jangka panjang untuk mencegah neokolonialisme, ketidakmampuan penulis untuk mengakomodasi fleksibilitas taktis dalam negosiasi internasional menunjukkan sisi utopis dari pemikiran revolusionernya. Meski demikian, secara keseluruhan buku ini tetap menjadi mahakarya yang tidak terbantahkan karena orisinalitas pemikirannya dalam meletakkan ekonomi sebagai basis utama pertahanan negara. Tan Malaka berhasil membuktikan bahwa seorang pemikir besar tetap bisa menghasilkan analisis yang jernih dan tajam meski berada di balik jeruji besi, sehingga menjadikan Gerpolek sebagai kompas moral dan intelektual bagi siapa pun yang ingin memahami esensi sejati dari kedaulatan sebuah bangsa yang bermartabat.
E. Kesimpulan dan Rekomendasi
Kemerdekaan sebuah bangsa merupakan sebuah bangunan utuh yang tidak boleh dipisahkan antara kedaulatan politik dan kemandirian ekonomi, di mana Tan Malaka secara tegas memperingatkan bahwa pengakuan kedaulatan di atas kertas tanpa penguasaan aset-alat produksi nasional hanyalah sebuah fatamorgana penjajahan gaya baru. Melalui doktrin "Merdeka Sepenuhnya", Tan Malaka menyimpulkan bahwa diplomasi yang dilakukan dalam posisi lemah atau penuh kompromi hanya akan menggadaikan martabat bangsa, sehingga strategi gerilya baik dalam fisik maupun kebijakan ekonomi menjadi satu-satunya jalan keluar yang terhormat bagi rakyat untuk merebut kembali hak-hak asasinya yang selama ini dirampas oleh kolonialisme. Tan Malaka berhasil meletakkan dasar pemikiran bahwa kekuatan sejati republik tidak terletak pada meja perundingan internasional yang dikuasai kekuatan besar, melainkan pada persatuan massa aksi kaum buruh, tani, dan tentara rakyat yang mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus bertekuk lutut pada bantuan asing yang mengikat.
Oleh karena itu, buku ini direkomendasikan bagi pembaca yang ingin memahami akar pemikiran kedaulatan bangsa dari sudut pandang yang paling murni dan tanpa kompromi. Karya ini adalah bacaan wajib bagi para mahasiswa hukum, aktivis sosial, pemerhati ekonomi politik, hingga masyarakat awam yang ingin mendalami sejarah alternatif perjuangan kemerdekaan Indonesia di luar narasi arus utama. Selain itu, perlunya reorientasi kebijakan ekonomi nasional yang lebih berpihak pada penguatan kedaulatan energi, pangan, dan sumber daya alam sebagai instrumen pertahanan negara yang paling fundamental. Pemerintah dan pembuat kebijakan disarankan untuk meninjau kembali setiap bentuk kerjasama internasional atau investasi asing agar tidak terjebak dalam skema neokolonialisme yang dapat mendikte kedaulatan hukum dan politik dalam negeri, sebagaimana yang dikhawatirkan Tan Malaka puluhan tahun silam.
Penulis: Oktav Fazha Darmawansyah
Baca Artikel Menarik Lainnya!
Tinjauan Peraturan Polisi No 10 Tahun 2025 terhada...
15 December 2025
Waktu Baca: 6 menit
Baca Selengkapnya →
Prabowo Reshuffle Kabinet: 5 Menteri Diganti, 1 Ke...
09 September 2025
Waktu Baca: 3 menit
Baca Selengkapnya →
Justice Collaborator: Kerja Sama antara Penyidik d...
29 June 2025
Waktu Baca: 5 menit
Baca Selengkapnya →