Jakarta - Bogor kembali dikejutkan dengan insiden jatuhnya pesawat angkatan bersenjata. Sebuah pesawat Super Tucano dari TNI Angkatan Udara dilaporkan mengalami kecelakaan di wilayah Pasir Pogor, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, pada Rabu pagi, 28 Agustus 2025. Kejadian ini berlangsung segera setelah pesawat lepas landas dari Lanud Halim Perdanakusuma dan sempat kehilangan komunikasi sejenak, menimbulkan kesedihan yang mendalam serta perhatian masyarakat nasional terhadap keamanan latihan penerbangan militer.


Penerbangan yang dilakukan oleh pesawat Super Tucano itu merupakan bagian dari latihan biasa untuk pembinaan kemampuan prajurit. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), wadah resmi olahraga dirgantara di tingkat nasional yang berada di bawah bimbingan langsung TNI Angkatan Udara. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan para pilot dalam menghadapi berbagai situasi operasional di udara, sekaligus menjadi komponen penting dari kesiapsiagaan tempur dan profesionalisme prajurit TNI AU dalam bidang penerbangan.


Kadispen AU Marsekal Pertama (Marsma) TNI I Nyoman Suadnyana menjelaskan Penerbangan pesawat Super Tucano pada hari kejadian telah menjalankan prosedur administratif dan teknis yang telah ditentukan. Dibuktikan dengan adanya Surat Izin Terbang (SIT) bernomor SIT/1484/VIII/2025 yang dikeluarkan oleh Lanud Atang Sendjaja. Selain itu, pesawat dinyatakan dalam keadaan layak terbang dan telah menjalani pengecekan kelayakan sebelum dioperasikan. Penerbangan ini juga adalah sortie kedua atau misi terbang kedua yang dilaksanakan pada hari itu, menunjukkan bahwa kegiatan latihan berjalan sesuai dengan skema yang terjadwal dan terpantau sesuai dengan protokol operasional penerbangan militer.


Kronologi bermula ketika Pesawat Microlight Fixedwing Quicksilver GT500 dengan nomor registrasi PK-S126 terbang dari Lanud Atang Sendjaja pada pukul 09.08 WIB untuk latihan kompetensi penerbangan olahraga yang diselenggarakan oleh FASI (Federasi Aerosport Seluruh Indonesia). Sekitar pukul 09.19 WIB, pesawat itu dilaporkan kehilangan kontak dan beberapa saat kemudian ditemukan telah terjatuh di daerah TPU Astana, Kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat.


Pesawat tersebut dikemudikan oleh Marsma TNI (Purn) Fajar Adrianto sebagai pilot dan Roni sebagai co-pilot. Akibat dari insiden tersebut, Marsma TNI Fajar dinyatakan meninggal di tempat kejadian, sedangkan kopilot Roni menderita luka serius dan masih mendapatkan perawatan intensif. Menanggapi kejadian ini, TNI AU bersama pihak terkait segera melaksanakan proses evakuasi dan pengamanan di area jatuhnya pesawat. Semua langkah penanganan kejadian dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada, untuk memastikan keamanan masyarakat sekitar dan kelancaran proses investigasi selanjutnya.


Dilansir dari liputan6.com, Seorang saksi di lokasi insiden, Enjat Sudrajat, memberikan keterangan mengenai saat-saat jatuhnya pesawat latih milik FASI di dekat Tempat Pemakaman Umum (TPU) Astana, Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Kejadian tragis itu berlangsung sekitar pukul 09.20 WIB saat Enjat sedang merawat makam di lokasi tersebut. Menurut Enjat, sebelum jatuh, pesawat sempat melintas rendah di atas pemakaman dalam posisi miring dan mengeluarkan suara mesin yang tidak biasakeras dan mengganggu. Tak berselang lama, pesawat itu terhempas dan jatuh di dekat lokasi TPU, menimbulkan kepanikan warga sekitar.


Melihat kejadian tersebut, warga yang tinggal di sekitar tempat kejadian berlari ke lokasi jatuhnya pesawat untuk membantu evakuasi korban. Dua orang berada di dalam pesawat, menurut enjat. Satu orang meninggal di lokasi, sementara yang lain mengalami luka berat dan segera dibawa ke fasilitas medis terdekat. Kesaksian ini juga mendukung kronologi dan konsekuensi nyata dari kecelakaan yang melanda wilayah Ciampea.


Tragedi kecelakaan pesawat latih FASI di Ciampea menjadi kabar duka mendalam bagi industri penerbangan Indonesia. Wafatnya Marsma TNI (Purn) Fajar Adrianto merupakan kehilangan besar bagi TNI AU dan seluruh keluarga besar dirgantara. Insiden ini menunjukkan bahwa risiko penerbangan tetap signifikan meskipun dalam misi latihan. Diperlukan penilaian komprehensif untuk menjamin keamanan dalam setiap aktivitas penerbangan ke depan.


Penulis: Septy Amelia Handayani

Editor: Rahma Ardana Fara Aviva