
Sumber: Inilah.com
Thailand-Kamboja Sambut Usulan Gencatan Senjata Trump: Isyarat Damai dari Asia Tenggara untuk Dunia?
Jakarta - Thailand dan Kamboja menyambut baik inisiatif gencatan senjata dunia yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Tindakan ini menandakan partisipasi aktif kedua negara dalam menghadapi dinamika geopolitik global, serta menggambarkan posisi strategis Asia Tenggara dalam mendorong stabilitas dan penyelesaian damai terhadap konflik bersenjata internasional.
Persoalan konflik antara Thailand dan Kamboja tidaklah muncul secara tiba-tiba. Ketegangan antara kedua negara ini memiliki latar belakang sejarah yang mendalam, terutama berkaitan dengan sengketa perbatasan dan klaim terhadap lokasi-lokasi bersejarah seperti Candi Preah Vihear. Sejak awal abad ke-20, kawasan perbatasan antara Thailand dan Kamboja sering kali menjadi penyebab ketegangan yang memicu insiden diplomatik hingga pertikaian bersenjata. Walaupun beberapa kali reda melalui keputusan hukum internasional dan diplomasi ASEAN, benih-benih konflik tetap tidak pernah benar-benar punah.
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat sejak tanggal 24 Juli 2025, yaitu pada saat pasukan Thailand melaporkan adanya drone dan pergerakan prajurit Kamboja di sekitar kompleks candi Prasat Ta Muen Thom, wilayah yang sejak dahulu menjadi objek sengketa kedua belah pihak. Thailand menuduh Kamboja melepaskan tembakan lebih dulu sekitar 200 meter dari sisi timur candi, sementara Kamboja membantah dan menuduh Thailand sebagai pihak yang memulai serangan dengan menutup akses publik ke lokasi tersebut. Pertikaian kemudian meluas menjadi konflik bersenjata skala besar, dengan penggunaan artileri dan roket BM-21 Grad dari kedua pihak. Thailand merespons dengan mengerahkan enam pesawat tempur F-16 yang menyerang posisi militer Kamboja, namun juga mengakibatkan korban jiwa di kalangan sipil dan merusak berbagai fasilitas umum seperti rumah sakit dan stasiun pengisian bahan bakar di area konflik. Karena kondisi inilah sejumlah pihak, termasuk Presiden AS Donald Trump, mendorong gencatan senjata dan perundingan damai antara kedua negara dengan segera.
Dilansir dari Tempo.co, Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai telah berbicara langsung dengan Presiden Trump. Dari percakapan tersebut, Thailand menyetujui tawaran gencatan senjata tersebut dengan harapan Kamboja menunjukan niat yang tulus untuk kesepakatan tersebut. Kemudian Thailand juga mendesak agar segera dilakukan dialog bilateral untuk kedua negara untuk menyusun mekanisme penghentian konflik dan menghasilkan win win solution antara dua negara.
Mendengar hal tersebut, pihak Kamboja diwakili oleh Perdana Menteri Hun Manet menyambut baik adanya gencatan senjata tersebut. Hun Manet menyatakan akan berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio untuk mengkoordinasi langkah selanjutnya dalam melakukan gencatan senjata dengan Thailand. Pihak Kamboja juga mengingatkan agar Thailand tidak akan mengingkari terhadap kesepakatan yang mungkin tercapai.
Konflik bersenjata ini telah mengakibatkan kematian 33 orang dan lebih dari 150.000 individu terpaksa mengungsi di sepanjang batas kedua negara, dikutip dari cnnindonesia.com. Ribuan penduduk Thailand dan Kamboja juga telah melarikan diri dari daerah perbatasan akibat konflik yang melibatkan artileri, drone, dan unit darat. Menurut Kementerian Pertahanan Phnom Penh, jumlah korban tewas di Kamboja telah mencapai 13 orang, terdiri dari lima militer dan delapan sipil, dengan lebih dari 35.000 orang terpaksa meninggalkan kediaman mereka. Dari pihak Thailand, militer melaporkan bahwa lima tentara terbunuh, sehingga total kematian di sana mencapai 20 orang, terdiri dari 14 warga sipil dan enam tentara.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam mengenai konflik itu. “Sekjen mengecam jatuhnya korban jiwa yang menyedihkan dan terdapat kerusakan terhadap hunian dan infrastruktur di kedua belah pihak itu tidaklah seharusnya,” kata juru bicaranya, Farhan Haq.
kedua pihak telah sepakat terhadap gencatan senjata. Kamboja menyatakan dukungan terhadap usulan tersebut, sementara Thailand menyatakan setuju secara prinsip. Di tengah eskalasi yang mencemaskan, tanggapan baik dari kedua negara terhadap tawaran gencatan senjata oleh Donald Trump memberikan harapan baru untuk terwujudnya perdamaian. Saat ini, komitmen politik serta dialog diplomatik merupakan faktor krusial untuk mengakhiri kekerasan dan mewujudkan stabilitas yang berkelanjutan di wilayah tersebut.
Penulis: Septy Amelia Handayani
Editor: Rahma Ardana Fara Aviva
Baca Artikel Menarik Lainnya!

Olahraga Padel Kena Pajak Daerah atau Pusat? Cari...
25 July 2025
Waktu Baca: 4 menit
Baca Selengkapnya →
Apakah Peserta Magang Berhak Mendapatkan Gaji?
30 April 2025
Waktu Baca: 2 menit
Baca Selengkapnya →
Mengenal Statuta Roma: Jalan Pengadilan Internasio...
01 August 2025
Waktu Baca: 4 menit
Baca Selengkapnya →